Jardin du Luxembourg
Tengah malam baru saja berlalu. Imajinasiku masih kabur. Entah kenapa aku makin susah mengingat wajahmu. Padahal aku ingin sekali memandangimu.
Eine kleine nachtmusik barangkali telah merusak pensil yang biasa kugunakan untuk menggambar sketsa wajahmu. Tapi setelah kuganti dengan nocturne, tetap saja tak ada perubahan. Bahkan semakin parah. Bukannya wajahmu yang kudapat, malah raut kepedihan Chopin yang tergambar jelas.
Ah, jika terus-menerus seperti ini, tak ada pilihan lain. Aku harus menemuimu. Seperti kemarin malam, walaupun tak sengaja, aku mendapatimu di gubuk Stavrogin. Tapi di mana aku bisa menemuimu? Stavrogin sudah mati. Sementara gubuknya sudah habis dilalap api.
Sogar ein Hirsch ist da, ganz wie im Wald,
nur daß er einen Sattel trägt und drüber
ein kleines blaues Mädchen aufgeschnallt.
(An elk is there, just like in the woods,
but now he wears a saddle on his back
and in it is tied a little girl in blue.)
(“Das Karussell - Jardin du Luxembourg” – Rainer Maria Rilke)
Mungkin aku akan mendapatimu di Jardin du Luxembourg. Tepat di depan monumen Chopin kau akan menabrak dadaku. Kita sama-sama terjatuh.
Aku segera bangkit, mendekatimu, mengulurkan tangan sembari berbisik: “hai, apa kabar?”