Lintasan Beratap Cokelat

Lintasan itu menjadi sangat panjang buatku. Panjangnya lebih kurang limapuluh meter. Dengan panjang yang tidak seberapa itu ia mampu menghubungkan dua gedung. Berlantai ubin yang diatasnya ditaburi batu kali berwarna hitam. Beratapkan genting tanah liat berwarna cokelat.  Di kanan-kirinya berdiri kokoh tiang-tiang penyangga yang berornamen batu-bata warna oranye. Lintasan itu dipotong bagian tengahnya sebagai jalan bagi pemilik kendaraan untuk menunggu datangnya sopir, atau sekedar keluar-masuk.

Hampir seminggu aku mengunci pandangan ke arah lintasan itu. Pandanganku hanya dibatasi kaca transparan yang berfungsi sebagai tembok dari ruangan tempat aku duduk. Dari situ aku tiga kali melihatmu, yang tak lain adalah teman Stavrogin.

 

At first I did not see you: I did not know

that you were walking with me,

until your roots

pierced my chest,

[…]

(Epithalamium – Pablo Neruda)

 

Sebelumnya aku pernah bertemu denganmu. Saat itu kau bersama Stavrogin sedang berbincang di sebuah gubuk di pedalaman Rusia. Aku datang untuk menghampiri Stavrogin untuk suatu urusan. Kau duduk di sebuah bangku dengan mantel bulu yang tebal. Tatapanmu tampak kosong saat itu. Setelah urusanku dengan Stavrogin selesai, aku segera pulang. Aku berpikir mungkin itu kali pertama dan terakhir melihatmu.

Ternyata tidak. Aku tiga kali melihatmu di lintasan itu. Tapi tidak bersama Stavrogin. Pertama kali aku melihatmu memakai kemeja biru muda dengan rambut tergerai. Kedua aku melihatmu memakai baju bermotif seperti batik dipadu dengan celana panjang abu-abu; saat itu rambutmu tidak kau gerai. Terakhir baru saja aku melihatmu dengan baju biru dipadu dengan celana panjang hitam. Bukan biru, sepertinya itu hitam. Ah, entahlah, mendadak pandanganku kabur. Kali ini kau mengikat rambutmu. Kacamata berrangka hitam menempel di wajahmu. Kau tampak berbeda. Yang tidak pernah berbeda dari tiga kali aku melihatmu: kau selalu menggendong tas-samping warna cokelat. Aku suka warna cokelatnya.

Entahlah kapan lagi aku bisa melihatmu. Yang jelas, lintasan itu menjadi sangat panjang ketika kau melewatinya. Lintasan itu beratap cokelat. Bukan merah muda.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.