Bastille

Di balik keangkuhan tembok Bastille, aku memikirkan “yang lain”. Sama sekali tidak kupedulikan kesengsaraanku. Tidak pula aku merasa iba pada rakyat yang terus ditindas Sang Raja. Hanya “yang lain” yang terus menggerogoti dinding tipis dalam pikiranku. “Yang lain” itu istimewa buatku. Bukan di mata Raja. Bukan di mata rakyat. Hanya buatku.

Dokter Manette terus memaksaku untuk kabur. “Aku kenal seorang sipir”, begitu katanya suatu waktu, “ia bisa membantumu pergi dari sini”. Dia memang berharap padaku untuk mengawini putrinya, Lucie, jika aku bisa keluar dari Bastille. Harapan dokter Manette seperti menahanku untuk kabur. Aku tidak bisa memenuhi permintaannya. Walaupun ketidakbisaanku itu tak pernah terucap. Kadang bukan hanya bangunan seperti Bastille yang bisa memenjara manusia. Budi-baik manusia lain juga bisa melakukannya dengan kualitas yang sama. Bahkan mungkin bisa lebih parah: karena Bastille bisa runtuh, sedangkan budi-baik terus ada seumur hidup manusia.

Aku tidak bisa mengkhianati “yang lain”, begitu kataku dalam hati. Meskipun aku tak tahu pasti apakah “yang lain” memedulikanku. Bahkan kadang sekelebat dugaan meyakinkanku bahwa “yang lain” tak menyadari keberadaanku. Tak masalah. Aku menganggapnya sebagai pengorbanan. Majnun saja sanggup menjadi gila untuk Laila. Meskipun menjadi Romeo adalah sebuah kekonyolan buatku.

Tekad sudah membulat: aku harus keluar dari tembok ini. Bagaimanapun caranya. Hanya saja bukan melalui pertolongan dokter Manette. Tak mungkin pula aku mengharapkan rakyat dengan amarahnya merobohkan hingga rata dengan tanah. Rakyat memang masih ditindas Raja. Tapi tak ada tanda-tanda munculnya revolusi. Suasana ini terlalu syahdu untuk memantik revolusi.

Kalaupun gelora revolusi menyeruak, sudah tak ada tembok yang hendak dirobohkan. Tinggal bersisa sebongkah batu  di le boulevard Henri-IV. Tidak. Itu tak mungkin. Karena rakyat dan aku sedang bersama-sama duduk di l’Opéra Bastille. Bersama-sama menyaksikan Caligula garapan Nicolas Le Riche yang dalam hitungan detik akan dimulai. Semua bersuka cita. Terkecuali aku.

Aku terus menanti “yang lain”. Mungkin hingga pementasan berakhir. Mungkin hingga tinggal aku sendiri yang ada di sini. Bahkan mungkin selama empat musim; seperti komposisi Vivaldi yang menjadi pengiring pada malam ini.

Tak masalah. Aku terus menanti “yang lain”. Di sini. Di tempat yang sama ketika rakyat merobohkan tembok Bastille 222 tahun yang lalu.

 

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.