Cermin
Plak!
Kutampar pipi kananku. Seluruh energi semesta seperti menopang tanganku. Sangat ringan jika sekadar menampar pipi manusia sepertiku.
Manusia? Kau menyebut manusia? Apa maksudmu?
Ya, aku manusia sayang. Aku konon bagian dari keluarga besar Homo Sapiens.
Ah, omong kosong! Jangan bicarakan soal arkeologi padaku. Jangan pula mengaitkannya dengan biologi, atau apapun yang sama sekali aku tak mengerti.
Lantas apa? Aku manusia karena aku secara fisik sama dengan manusia, atau jika kau tak suka, sama dengan yang lain yang biasanya disebut manusia. Aku punya jantung, yang lain punya jantung. Aku punya hidung, yang lain punya hidung. Dan seterusnya.
Aku tak peduli. Terserah jika ternyata kau sama dengan yang lain. Apapun itu. Aku tak peduli. Aku hanya tanya: apa maksudmu menyebut dirimu manusia?
Ya, aku manusia sayang. Apalagi kau sebut kalau bukan manusia? Hewan? Tumbuhan? Batu?
Aha! Itu dia. Mungkin kau sebuah batu.
Apa? Batu? Jelas-jelas batu tak punya jantung. Batu tak punya organ-organ seperti manusia, sayang.
Hai, bangsat! Kau itu batu. Batu yang punya jantung. Batu yang punya hidung. Batu yang punya segala hal yang dipunya apa yang biasa disebut manusia. Titik.
Plak!
Kutampar pipi kiriku. Seluruh energi tanganku seperti tersedot seluruh penghuni alam semesta. Lemah. Berat sekali sekadar untuk menampar sebongkah batu.