“Kau masih memikirkan perempuan itu?”

“Ya, seperti rasa American Honey.”

“Ah, memangnya kau pernah mencicipi madu asal amerika?”

“Belum.”

“Lantas, mengapa kau…”

“Aku bisa merasakan lezatnya madu itu dari lagu American Honey-nya Lady Antebellum.”

“Ah, dasar. Imajinasi murahan.”

“Hey, dengarkan liriknya: so innocent, pure, and sweet, american honey.”

Sebuah belati bersarang di kerongkongan seorang laki-laki. Mulutnya menganga, terselip gagang kayu berukir kepala naga. Dari tengkuknya mengucur darah, sangat kental. Begitu murni dan manis, seperti madu Amerika.

Tengah malam baru saja berlalu. Imajinasiku masih kabur. Entah kenapa aku makin susah mengingat wajahmu. Padahal aku ingin sekali memandangimu.

Eine kleine nachtmusik barangkali telah merusak pensil yang biasa kugunakan untuk menggambar sketsa wajahmu. Tapi setelah kuganti dengan nocturne, tetap saja tak ada perubahan. Bahkan semakin parah. Bukannya wajahmu yang kudapat, malah raut kepedihan Chopin yang tergambar jelas.

Ah, jika terus-menerus seperti ini, tak ada pilihan lain. Aku harus menemuimu. Seperti kemarin malam, walaupun tak sengaja, aku mendapatimu di gubuk Stavrogin. Tapi di mana aku bisa menemuimu? Stavrogin sudah mati. Sementara gubuknya sudah habis dilalap api.

 

Sogar ein Hirsch ist da, ganz wie im Wald,
nur daß er einen Sattel trägt und drüber
ein kleines blaues Mädchen aufgeschnallt.

(An elk is there, just like in the woods,

but now he wears a saddle on his back

and in it is tied a little girl in blue.)

(“Das Karussell - Jardin du Luxembourg” – Rainer Maria Rilke)

 

Mungkin aku akan mendapatimu di Jardin du Luxembourg. Tepat di depan monumen Chopin kau akan menabrak dadaku. Kita sama-sama terjatuh.

Aku segera bangkit, mendekatimu, mengulurkan tangan sembari berbisik: “hai, apa kabar?”

Lintasan itu menjadi sangat panjang buatku. Panjangnya lebih kurang limapuluh meter. Dengan panjang yang tidak seberapa itu ia mampu menghubungkan dua gedung. Berlantai ubin yang diatasnya ditaburi batu kali berwarna hitam. Beratapkan genting tanah liat berwarna cokelat.  Di kanan-kirinya berdiri kokoh tiang-tiang penyangga yang berornamen batu-bata warna oranye. Lintasan itu dipotong bagian tengahnya sebagai jalan bagi pemilik kendaraan untuk menunggu datangnya sopir, atau sekedar keluar-masuk.

Hampir seminggu aku mengunci pandangan ke arah lintasan itu. Pandanganku hanya dibatasi kaca transparan yang berfungsi sebagai tembok dari ruangan tempat aku duduk. Dari situ aku tiga kali melihatmu, yang tak lain adalah teman Stavrogin.

 

At first I did not see you: I did not know

that you were walking with me,

until your roots

pierced my chest,

[…]

(Epithalamium – Pablo Neruda)

 

Sebelumnya aku pernah bertemu denganmu. Saat itu kau bersama Stavrogin sedang berbincang di sebuah gubuk di pedalaman Rusia. Aku datang untuk menghampiri Stavrogin untuk suatu urusan. Kau duduk di sebuah bangku dengan mantel bulu yang tebal. Tatapanmu tampak kosong saat itu. Setelah urusanku dengan Stavrogin selesai, aku segera pulang. Aku berpikir mungkin itu kali pertama dan terakhir melihatmu.

Ternyata tidak. Aku tiga kali melihatmu di lintasan itu. Tapi tidak bersama Stavrogin. Pertama kali aku melihatmu memakai kemeja biru muda dengan rambut tergerai. Kedua aku melihatmu memakai baju bermotif seperti batik dipadu dengan celana panjang abu-abu; saat itu rambutmu tidak kau gerai. Terakhir baru saja aku melihatmu dengan baju biru dipadu dengan celana panjang hitam. Bukan biru, sepertinya itu hitam. Ah, entahlah, mendadak pandanganku kabur. Kali ini kau mengikat rambutmu. Kacamata berrangka hitam menempel di wajahmu. Kau tampak berbeda. Yang tidak pernah berbeda dari tiga kali aku melihatmu: kau selalu menggendong tas-samping warna cokelat. Aku suka warna cokelatnya.

Entahlah kapan lagi aku bisa melihatmu. Yang jelas, lintasan itu menjadi sangat panjang ketika kau melewatinya. Lintasan itu beratap cokelat. Bukan merah muda.

 

Di balik keangkuhan tembok Bastille, aku memikirkan “yang lain”. Sama sekali tidak kupedulikan kesengsaraanku. Tidak pula aku merasa iba pada rakyat yang terus ditindas Sang Raja. Hanya “yang lain” yang terus menggerogoti dinding tipis dalam pikiranku. “Yang lain” itu istimewa buatku. Bukan di mata Raja. Bukan di mata rakyat. Hanya buatku.

Dokter Manette terus memaksaku untuk kabur. “Aku kenal seorang sipir”, begitu katanya suatu waktu, “ia bisa membantumu pergi dari sini”. Dia memang berharap padaku untuk mengawini putrinya, Lucie, jika aku bisa keluar dari Bastille. Harapan dokter Manette seperti menahanku untuk kabur. Aku tidak bisa memenuhi permintaannya. Walaupun ketidakbisaanku itu tak pernah terucap. Kadang bukan hanya bangunan seperti Bastille yang bisa memenjara manusia. Budi-baik manusia lain juga bisa melakukannya dengan kualitas yang sama. Bahkan mungkin bisa lebih parah: karena Bastille bisa runtuh, sedangkan budi-baik terus ada seumur hidup manusia.

Aku tidak bisa mengkhianati “yang lain”, begitu kataku dalam hati. Meskipun aku tak tahu pasti apakah “yang lain” memedulikanku. Bahkan kadang sekelebat dugaan meyakinkanku bahwa “yang lain” tak menyadari keberadaanku. Tak masalah. Aku menganggapnya sebagai pengorbanan. Majnun saja sanggup menjadi gila untuk Laila. Meskipun menjadi Romeo adalah sebuah kekonyolan buatku.

Tekad sudah membulat: aku harus keluar dari tembok ini. Bagaimanapun caranya. Hanya saja bukan melalui pertolongan dokter Manette. Tak mungkin pula aku mengharapkan rakyat dengan amarahnya merobohkan hingga rata dengan tanah. Rakyat memang masih ditindas Raja. Tapi tak ada tanda-tanda munculnya revolusi. Suasana ini terlalu syahdu untuk memantik revolusi.

Kalaupun gelora revolusi menyeruak, sudah tak ada tembok yang hendak dirobohkan. Tinggal bersisa sebongkah batu  di le boulevard Henri-IV. Tidak. Itu tak mungkin. Karena rakyat dan aku sedang bersama-sama duduk di l’Opéra Bastille. Bersama-sama menyaksikan Caligula garapan Nicolas Le Riche yang dalam hitungan detik akan dimulai. Semua bersuka cita. Terkecuali aku.

Aku terus menanti “yang lain”. Mungkin hingga pementasan berakhir. Mungkin hingga tinggal aku sendiri yang ada di sini. Bahkan mungkin selama empat musim; seperti komposisi Vivaldi yang menjadi pengiring pada malam ini.

Tak masalah. Aku terus menanti “yang lain”. Di sini. Di tempat yang sama ketika rakyat merobohkan tembok Bastille 222 tahun yang lalu.

 

Plak!

Kutampar pipi kananku. Seluruh energi semesta seperti menopang tanganku. Sangat ringan jika sekadar menampar pipi manusia sepertiku.

Manusia? Kau menyebut manusia? Apa maksudmu?

Ya, aku manusia sayang. Aku konon bagian dari keluarga besar Homo Sapiens.

Ah, omong kosong! Jangan bicarakan soal arkeologi padaku. Jangan pula mengaitkannya dengan biologi, atau apapun yang sama sekali aku tak mengerti.

Lantas apa? Aku manusia karena aku secara fisik sama dengan manusia, atau jika kau tak suka, sama dengan yang lain yang biasanya disebut manusia. Aku punya jantung, yang lain punya jantung. Aku punya hidung, yang lain punya hidung. Dan seterusnya.

Aku tak peduli. Terserah jika ternyata kau sama dengan yang lain. Apapun itu. Aku tak peduli. Aku hanya tanya: apa maksudmu menyebut dirimu manusia?

Ya, aku manusia sayang. Apalagi kau sebut kalau bukan manusia? Hewan? Tumbuhan? Batu?

Aha! Itu dia. Mungkin kau sebuah batu.

Apa? Batu? Jelas-jelas batu tak punya jantung. Batu tak punya organ-organ seperti manusia, sayang.

Hai, bangsat! Kau itu batu. Batu yang punya jantung. Batu yang punya hidung. Batu yang punya segala hal yang dipunya apa yang biasa disebut manusia. Titik.

Plak!

Kutampar pipi kiriku. Seluruh energi tanganku seperti tersedot seluruh penghuni alam semesta. Lemah. Berat sekali sekadar untuk menampar sebongkah batu.

 

hujan begitu deras

makin dalam menusuk dadaku

tiap tetesnya menguap jadi kabut

warnanya abu-abu gelap

menyelimuti titik hitam di rongga dada

kelam, makin kelam

 

akulah si jalang itu

jalang dari segala jalang

tak pernah mau dipapah

seakan tak kenal lelah

berkata hingga berdarah

kini lemah

lelah

memerah darah

 

mosaik tak berpola

hanya deras laksana hujan

tanpa tahu akan ke mana

mungkin ke selokan

mungkin membasahi dedaunan

tapi toh tetap saja menuju ke laut

tanpa tahu akan terdampar di mana

 

laut itu makin jauh makin tenang

makin sepi

sepi…sekali.

 

120111.01.07

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.